.......

Monday, September 25, 2006

1427 H, Ramadhan #1

Salam,

_daulat Tuan Penggenggam waktu_

Marhaban ya Ramadhan. Marhaban ya Syahrasshiam, Marhaban ya Sayyidassyuhur.
Welcome Ramadhan. Wajah manismu rupawan bersahaja. Maafkan aku sudah bertahun-tahun aku lukai kamu Ramadhan. Tapi nama besar Tuan tetap jadikan kamu di tempat kemuliaan.

Ramadhan yang cantik. Kau paksakan aku cinta yang membuat aku tersiksa. Dahaga aku akan kamu pudarkan dahaga akan dunia, karena memang aku rela. Tapi masih ku tak tau sudikah kamu Ramadhan. Bisa aku hanya mengira-ngira.

Ramadhan nan indah. Buai aku akan nama besar Tuan. Tapi masih ku tak tau maukah kamu Ramadhan. Namun aku rasa aku yakin bahwa besar jiwamu, karena Tuan yang jadikan kamu Ramadhan.

Ramadhan nan sejuk. Basuhlah aku yang sedang kepanasan. Tapi masih ku tak tau inginkah kamu Ramadhan. Atau mungkin kamu terlalu dingin Ramadhan.

Ramadhan. Masih ku tak tau taukah kamu Ramadhan. Dulu mata ini sering menangis. Tapi lacur, dulu juga aku buaya. Masih ku tak tau masihkah aku sekarang ini. Yakinku tidak karena Tuan bilang aku harus yakin. Tapi masih ku tak tau percayakah kamu padaku Ramadhan.

Ramadhan. Rasanya mataku berair. Tapi aku sombong. Rasanya kau tau itu Ramadhan. Rasanya makin berat, ingin saja kutumpahkan. Tapi disini ramai, bising batinku, berisik suara mereka, gaduhnya dunia ini Ramadhan.

Ramadhan. Aku ingin menangis, makin kuat ingin itu. Tapi masih ku tak tau karena apa dan untuk apa. Kusakiti kamu Ramadhan, tapi diri ini yang terluka. Masih ku tak tau apakah kita satu Ramadhan.

Ramadhan. Tuan bilang ada neraka, aku takut. Tuan bilang ada surga, aku ingin. Tapi masih ku tak tau pantaskah aku Ramadhan. Tapi Tuan bilang jangan berputus asa akan rahmat-Nya.

Ramadhan. Ramadhan. Ramadhan. Jangan abaikan aku. Aku malu beramal tapi nista mukaku tebal untuk berdosa. Doakan aku itu hanya untuk masa lalu. Gilakah aku bila menangis di pinggiran jalan atau persimpangan. Temani aku Ramadhan.

Ramadhan. Taukan kamu jika Muhammad saw ada di hatiku. Tapi nista, diam-diam aku hanya menoreh luka tiap detiknya. Ramadhan. Taukah kamu siapa aku sebenarnya? Ramadhan. Kau dekat dengan Tuan sedang aku jauh.

Ramadhan. Aku lapar. Aku tamak. Aku haus. Aku rakus. Tak pernah puas. Ramadhan, adakah kau lihat tanda kesyukuran pada diriku? Adakah tanda kearifan? Adakah tanda kebijaksanaan? Adakah kesabaran? Adakah adakah adakah nama besar Tuan di diri ini?

Ramadhan. Mungkin dulu aku bilang habis kata-kataku. Tapi kali ini bisa jadi kamu yang muak dengan kalimat-kalimat aku. Maafkan aku Ramadhan. Karena kuyakin akan besar jiwamu.


m2d,
_Ampunan Tuan yang kuharapkan_


0 Comments:

Post a Comment

<< Home