1427 H, Ramadhan #5
Salam,
Alhamdulillah. Sholawat dan salam atas Rasulullah saw.
Sudah memasuki hari ke-5 bulan Ramadhan di tahun ini. Puji syukur mari panjatkan ke hadirat Ilahi Rabbi yang tiada henti membukakan pintu pencerahan bagi hati yang sudah lama kelam ini dan masih sering suka bernaung dalam gelap.
Banyak kejadian yang dilewati. Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Saya harus menjaga indra ini yang sudah Allah amanahkan pada saya. Saya yang sudah banyak menyalahgunakan mata. Dan sudah layaknya kemarin lalu saya menekankan pada diri untuk tegas akan hal-hal mana yang halal dan mana yang haram. Kemudian mulut ini. Saya harus lebih menjaganya, bukan hanya dari kata-kata kotor dan tidak pantas tapi kata-kata yang juga berpotensi menyakiti orang lain. Selama itu tidak berlandaskan syariah dan bukan karena ikhlas jujur maka saya rasanya tidak berhak untuk menyakiti hati orang lain. Semoga Allah memberikan petunjuk tiada henti agar saya bisa lurus dalam berniat.
Panjang jalan yang dilalui. Banyak hikmah yang bisa diambil. Kadang otak dan akal saya lebih cepat berputar dalam kondisi dinamisme jalan raya mungkin, atau dalam sebuah perjalanan. Melihat alam sekitar dan menatap orang-orang yang hilir mudik atau hanya sekedar duduk-duduk. Bagai sebuah percakapan saya membatin.
Aku lihat mereka, kutatapi mereka, wajah-wajah mereka. Mereka yang muda belia, remaja, paruh baya dan ada yang tua. Dan kutatap diriku sendiri. Paduan antara jiwa dan ongokan daging.
Kutatapi calon-calon mayat pada kerapuhan bingkai jasad yang ditopang jiwa yang rahasia. Sejenak hilang takjubku akan kecantikan, hilang takjubku akan ketampanan, kegagahan, jasad yang indah, dah semua perhiasan. Hilang pula takutku pada wajah-wajah berang, sangar dan congkak.
Lalu kutatap lagi diriku sendiri. Tak jauh berbeda karena memang aku dan mereka sama. Kita berasal dari diri yang satu kemudian jalan darah itu terpisah-pisah seperti yang aku kabarkan kemarin kawan.
Tak guna engkau menggoda kawan, tak guna aku merayu. Tak takut aku kau hentak teman, tak penting aku teriak. Toh kita sama-sama akan mati, yang jadi soal hanyalah yang yg dahulu dan siapa yang kemudian.
Engkau yang menggodaku dan kamu yang aku rayu, mungkin kita akan saling membenci ketika akan berebut satu-satunya perahu ketika banjir datang.
Kamu yang hentak aku dan aku yang emosi padamu, mungkin kita akan saling berpeluk menuai doa memohon keselamatan ketika berlindung disatu atap disaat hujan batu.
Dra. Coba liat bapak tua itu. Aku tegur diriku. Apa kamu kira dia akan hidup selamanya? tentu tidak bukan. Dia mendekati ajalnya. Dra! lihat dirimu sendiri. Siapa yang tau ajalmu akan datang mendahului dia yang tua. wallahu a'lam Mad. Dra! kalau saya umur kamu panjang pasti akan menua seperti itu. Iya. Coba lihat itu anak-anak muda dengan seragam sekolah, terlihat segar dan kencang kulitnya. Ada yang cantik Dra. Hahah.
Mad. Kita semua nyaris sama. Aku adalah perpaduan nutfah ayahku dan sel telur ibuku. Alhamdlillah perpaduan yang Allah telah menghalalkannya dengan melewati satu fase yang disebut pernikahan. Kemudian aku tak berdaya hanya sebongkah zygot lalu menjadi gumpalan-gumpalan morula-blastula aghh aku lupa, soalnya nilai biologiku di smu jelek. heheh. Gumpalan darah lalu gumpalan daging terus masih tak berdaya tersusunlah tulang-tulangku kemudian terbentuk daging yang membalut tulang-tulangku. Sangat lemah ya. Jadilah aku janin lantas ketika pantas maka aku dilahirkan dengan susah payah oleh ibuku. Itulah salah satu proses perpaduan. Aku bayi yang lemah kemudian tumbuh kembang menjadi balita lalu remaja dan sampai pada fase saat ini yang sedang aku jalani. Isa bin Maryam as bilang ruh itu kuat tapi daging ini lemah. Aku rasakan kelemahannya. Dan aku pikir setiap orang mengalami proses yang garis besarnya sama bahkan makhluk2 lainnya. Yaitu proses yang tergambar padanya betapa lemahnya kita.
Iya Dra lanjutkan langkah kaki kita.
Maut yang pasti akan datang. Mungkin karena penyakit tua atau juga dengan sebab benturan energi yang besar dan dapat disintesakan dalam sebuah kalkulasi panjang, padahal sebagian besar prosesnya hanya sekejap. Allah yang tentukan semuanya. Tuan kita. Karena Allah telah menciptakan sesuatu dengan ketentuan-Nya, perhitungan-Nya, kalkulasi-Nya dan kebesaran nama-nama-Nya.
Hey aku dengar lagu besenandung cinta. Wah serasa kalimat-kalimat agung. Siapa yang agung? ouh mereka agungkan cinta itu. Hmm kebanyakan antara pria dan wanita. Normal yah. Iya. Zuyyina linnas hubbus syahawat bainan nisa wal banin. Allah sudah menghias kita dengan rasa suka itu. Tapi seagung itu kah. Hmmm buat aku tidak. Cuma hiasan dan salah satu makhluk Allah. Ya Allah Tuanku tunjukilah hamba.
Hey. Tapi keliatannya mereka begitu menderita dibuatnya. Aku rasa mereka yang menyiksa diri mereka sendiri. Hmm jangan-jangan kamu ngga normal? Wah na'uzubillah. Aku ini normal dan mencoba untuk menjalani fitrah. Karena Allah sudah berikan ketentuan-ketentuan dan batasan-batasan. Memangnya kamu ngga pernah jatuh cinta? Sering, ya jatuh cinta dalam kalimat manusia tapi sering kali kuanggap hanya sekedar rasa ya sekedar rasa. Ya itu tadi hiasan yang berupa rasa. Aku sebisa mungkin berusaha untuk tidak melukai hati ini lagi, karena sudah banyak lukanya, dosa-dosa yang kuperbuat dan kekhilafan lainnya. Apa kamu pernah sakit karenanya? ya pernah dan mungkin sedang. Tapi kan sakit juga ada ukurannya, sakit sedikit, sedang-sedang atau sakit sekali atau amat sangat sakit sekali. Haha itu menurut saya tergantung bagaimana individunya toh karena kita manusia yang diberi akal untuk mengontrol diri ini. Bila aku ingin sakit maka sakitlah aku, bila ingin sangat maka makin terasa sangatnya. Saat ini aku juga sedang sakit karena dia, tapi aku rasa sebatas goresan-goresan kecil dan aku tidak ingin melebarkan luka. Lagipula maut rasanya lebih amat sangat sakit kawan. Bukan cuma goresan, bukan sekedar hati yang remuk dihantam gunung. Tapi mungkin sekujur tubuhmu merasakannya perih bagai disayat-sayat. Aku tau dari orang-orang bijak, semoga Allah merahmati mereka. Lantas agungkah cinta? hmm yang Maha Agung itu Allah yang menggenggam cinta kawan.
Wah Mad kalo kmu bgini bisa jarang memjual candaan dong. jarang tersenyum.
Hmm. Aku usahakan tersenyum denga niatan ibadah. Hidup ini sudah cukup sebuah permainan dengan maut sebagai ending. Permainan serius yang membutuhkan ketelitian. Toh orang-orang bermain catur saja bisa-bisa seperti ingin meledak kepalanya. Apalagi permainan hidup ini kawan. Konsekuensinya besar. Cuma satu kali permainan satu kali evaluasi kita dihisab dan mendapat ganjaran dari Allah The AlMighty Game Master.
Wah Mad kalo jarang tertawa nanti kata orang umurnya pendek.
Hey guys. Siapa yang ingin hidup berlama-lama, tapi aku ingin hidup bermakna.
Aku coba lagi beri analogi sederhana dengan permainan catur, tapi tentunya sangat kurang untuk setarakannya dengan permainan hidup.
Yang diusahakan bagaimana tiap langkah yang diambil dalam bercatur adalah langkah2 strategis bermakna dan kalo bisa cepat2 skak mat lawan. Bukan langkah sia-sia yang cuma memperlama permainan. Bisa basi dong ga enak yang nonton. Hahah.
Tapi ya saya ulangin lagi, kehidupan ini sangat jauh kompleksnya dibanding bermain catur. sanking kompleksnya maka menang di dunia belum tentu menang di akhirat begitu juga dengan kekalahan. Hidup adalah permainan yang bukan hanya dihitung dengan kuantitas dan juga kualitas-kualitas semu. Pokoknya rumit deh. Wallahu a'lam. Allah Yang Maha Tau.
Regards,
m2d
Alhamdulillah. Sholawat dan salam atas Rasulullah saw.
Sudah memasuki hari ke-5 bulan Ramadhan di tahun ini. Puji syukur mari panjatkan ke hadirat Ilahi Rabbi yang tiada henti membukakan pintu pencerahan bagi hati yang sudah lama kelam ini dan masih sering suka bernaung dalam gelap.
Banyak kejadian yang dilewati. Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Saya harus menjaga indra ini yang sudah Allah amanahkan pada saya. Saya yang sudah banyak menyalahgunakan mata. Dan sudah layaknya kemarin lalu saya menekankan pada diri untuk tegas akan hal-hal mana yang halal dan mana yang haram. Kemudian mulut ini. Saya harus lebih menjaganya, bukan hanya dari kata-kata kotor dan tidak pantas tapi kata-kata yang juga berpotensi menyakiti orang lain. Selama itu tidak berlandaskan syariah dan bukan karena ikhlas jujur maka saya rasanya tidak berhak untuk menyakiti hati orang lain. Semoga Allah memberikan petunjuk tiada henti agar saya bisa lurus dalam berniat.
Panjang jalan yang dilalui. Banyak hikmah yang bisa diambil. Kadang otak dan akal saya lebih cepat berputar dalam kondisi dinamisme jalan raya mungkin, atau dalam sebuah perjalanan. Melihat alam sekitar dan menatap orang-orang yang hilir mudik atau hanya sekedar duduk-duduk. Bagai sebuah percakapan saya membatin.
***
Aku lihat mereka, kutatapi mereka, wajah-wajah mereka. Mereka yang muda belia, remaja, paruh baya dan ada yang tua. Dan kutatap diriku sendiri. Paduan antara jiwa dan ongokan daging.
Kutatapi calon-calon mayat pada kerapuhan bingkai jasad yang ditopang jiwa yang rahasia. Sejenak hilang takjubku akan kecantikan, hilang takjubku akan ketampanan, kegagahan, jasad yang indah, dah semua perhiasan. Hilang pula takutku pada wajah-wajah berang, sangar dan congkak.
Lalu kutatap lagi diriku sendiri. Tak jauh berbeda karena memang aku dan mereka sama. Kita berasal dari diri yang satu kemudian jalan darah itu terpisah-pisah seperti yang aku kabarkan kemarin kawan.
Tak guna engkau menggoda kawan, tak guna aku merayu. Tak takut aku kau hentak teman, tak penting aku teriak. Toh kita sama-sama akan mati, yang jadi soal hanyalah yang yg dahulu dan siapa yang kemudian.
Engkau yang menggodaku dan kamu yang aku rayu, mungkin kita akan saling membenci ketika akan berebut satu-satunya perahu ketika banjir datang.
Kamu yang hentak aku dan aku yang emosi padamu, mungkin kita akan saling berpeluk menuai doa memohon keselamatan ketika berlindung disatu atap disaat hujan batu.
***
Dra. Coba liat bapak tua itu. Aku tegur diriku. Apa kamu kira dia akan hidup selamanya? tentu tidak bukan. Dia mendekati ajalnya. Dra! lihat dirimu sendiri. Siapa yang tau ajalmu akan datang mendahului dia yang tua. wallahu a'lam Mad. Dra! kalau saya umur kamu panjang pasti akan menua seperti itu. Iya. Coba lihat itu anak-anak muda dengan seragam sekolah, terlihat segar dan kencang kulitnya. Ada yang cantik Dra. Hahah.
Mad. Kita semua nyaris sama. Aku adalah perpaduan nutfah ayahku dan sel telur ibuku. Alhamdlillah perpaduan yang Allah telah menghalalkannya dengan melewati satu fase yang disebut pernikahan. Kemudian aku tak berdaya hanya sebongkah zygot lalu menjadi gumpalan-gumpalan morula-blastula aghh aku lupa, soalnya nilai biologiku di smu jelek. heheh. Gumpalan darah lalu gumpalan daging terus masih tak berdaya tersusunlah tulang-tulangku kemudian terbentuk daging yang membalut tulang-tulangku. Sangat lemah ya. Jadilah aku janin lantas ketika pantas maka aku dilahirkan dengan susah payah oleh ibuku. Itulah salah satu proses perpaduan. Aku bayi yang lemah kemudian tumbuh kembang menjadi balita lalu remaja dan sampai pada fase saat ini yang sedang aku jalani. Isa bin Maryam as bilang ruh itu kuat tapi daging ini lemah. Aku rasakan kelemahannya. Dan aku pikir setiap orang mengalami proses yang garis besarnya sama bahkan makhluk2 lainnya. Yaitu proses yang tergambar padanya betapa lemahnya kita.
Iya Dra lanjutkan langkah kaki kita.
Maut yang pasti akan datang. Mungkin karena penyakit tua atau juga dengan sebab benturan energi yang besar dan dapat disintesakan dalam sebuah kalkulasi panjang, padahal sebagian besar prosesnya hanya sekejap. Allah yang tentukan semuanya. Tuan kita. Karena Allah telah menciptakan sesuatu dengan ketentuan-Nya, perhitungan-Nya, kalkulasi-Nya dan kebesaran nama-nama-Nya.
***
Hey aku dengar lagu besenandung cinta. Wah serasa kalimat-kalimat agung. Siapa yang agung? ouh mereka agungkan cinta itu. Hmm kebanyakan antara pria dan wanita. Normal yah. Iya. Zuyyina linnas hubbus syahawat bainan nisa wal banin. Allah sudah menghias kita dengan rasa suka itu. Tapi seagung itu kah. Hmmm buat aku tidak. Cuma hiasan dan salah satu makhluk Allah. Ya Allah Tuanku tunjukilah hamba.
Hey. Tapi keliatannya mereka begitu menderita dibuatnya. Aku rasa mereka yang menyiksa diri mereka sendiri. Hmm jangan-jangan kamu ngga normal? Wah na'uzubillah. Aku ini normal dan mencoba untuk menjalani fitrah. Karena Allah sudah berikan ketentuan-ketentuan dan batasan-batasan. Memangnya kamu ngga pernah jatuh cinta? Sering, ya jatuh cinta dalam kalimat manusia tapi sering kali kuanggap hanya sekedar rasa ya sekedar rasa. Ya itu tadi hiasan yang berupa rasa. Aku sebisa mungkin berusaha untuk tidak melukai hati ini lagi, karena sudah banyak lukanya, dosa-dosa yang kuperbuat dan kekhilafan lainnya. Apa kamu pernah sakit karenanya? ya pernah dan mungkin sedang. Tapi kan sakit juga ada ukurannya, sakit sedikit, sedang-sedang atau sakit sekali atau amat sangat sakit sekali. Haha itu menurut saya tergantung bagaimana individunya toh karena kita manusia yang diberi akal untuk mengontrol diri ini. Bila aku ingin sakit maka sakitlah aku, bila ingin sangat maka makin terasa sangatnya. Saat ini aku juga sedang sakit karena dia, tapi aku rasa sebatas goresan-goresan kecil dan aku tidak ingin melebarkan luka. Lagipula maut rasanya lebih amat sangat sakit kawan. Bukan cuma goresan, bukan sekedar hati yang remuk dihantam gunung. Tapi mungkin sekujur tubuhmu merasakannya perih bagai disayat-sayat. Aku tau dari orang-orang bijak, semoga Allah merahmati mereka. Lantas agungkah cinta? hmm yang Maha Agung itu Allah yang menggenggam cinta kawan.
***
Wah Mad kalo kmu bgini bisa jarang memjual candaan dong. jarang tersenyum.
Hmm. Aku usahakan tersenyum denga niatan ibadah. Hidup ini sudah cukup sebuah permainan dengan maut sebagai ending. Permainan serius yang membutuhkan ketelitian. Toh orang-orang bermain catur saja bisa-bisa seperti ingin meledak kepalanya. Apalagi permainan hidup ini kawan. Konsekuensinya besar. Cuma satu kali permainan satu kali evaluasi kita dihisab dan mendapat ganjaran dari Allah The AlMighty Game Master.
Wah Mad kalo jarang tertawa nanti kata orang umurnya pendek.
Hey guys. Siapa yang ingin hidup berlama-lama, tapi aku ingin hidup bermakna.
Aku coba lagi beri analogi sederhana dengan permainan catur, tapi tentunya sangat kurang untuk setarakannya dengan permainan hidup.
Yang diusahakan bagaimana tiap langkah yang diambil dalam bercatur adalah langkah2 strategis bermakna dan kalo bisa cepat2 skak mat lawan. Bukan langkah sia-sia yang cuma memperlama permainan. Bisa basi dong ga enak yang nonton. Hahah.
Tapi ya saya ulangin lagi, kehidupan ini sangat jauh kompleksnya dibanding bermain catur. sanking kompleksnya maka menang di dunia belum tentu menang di akhirat begitu juga dengan kekalahan. Hidup adalah permainan yang bukan hanya dihitung dengan kuantitas dan juga kualitas-kualitas semu. Pokoknya rumit deh. Wallahu a'lam. Allah Yang Maha Tau.
Regards,
m2d
0 Comments:
Post a Comment
<< Home